Browsing articles in "Expert Opinion"

Manfaatkan Era Jutaan Informasi Ini Untuk Memilih Investasi Properti yang Tepat

May 10, 2017   //   by Synthesis   //   Expert Opinion  //  Comments Off on Manfaatkan Era Jutaan Informasi Ini Untuk Memilih Investasi Properti yang Tepat

Di era digital ini, semua orang punya kesempatan yang sama mendapatkan informasi yang beragam dan tidak terbatas dari satu sumber saja. Salah satunya sumber informasi terkait properti. Hanya tinggal satu kali klik di mesin pencari Google kita bisa mencari tahu semua hal tentang properti, dari mulai tips sampai mencari tahu harga properti yang kita incar.

 

Generasi yang paling diuntungkan dari derasnya informasi ini adalah generasi langgas atau generasi millennials Indonesia. Tidak seperti generasi sebelumnya, mereka memiliki beragam sumber informasi tidak hanya dari buku, tapi dari berita, forum online dan bahkan mereka bisa mendapatkan informasi langsung dari pakar dengan bertanya lewat sosial media.

 

Sebagai contoh, dulu sebelum memutuskan membeli rumah ada dua opsi yang harus saya pertimbangkan. Dalam masa pilah pilih, saya banyak menggali informasi seputar kedua properti tersebut dari segi jarak, harga dan lingkungan sekitar dari bertanya kepada orang-orang terdekat dan juga kepada orang yang punya pengalaman dengan dunia properti. Informasi di internet jaman dulu masih sangat terbatas. Kalau saya ingin membandingkan harga juga belum banyak informasinya di internet. Semua harus didapat secara konvensional, yaitu membaca iklan baris seminggu sekali kemudian mencatat hingga akhirnya bisa punya pasaran harga. Bandingkan dengan sekarang di mana semua orang bisa mendapatkan berbagai informasi hanya dengan berselancar di internet.

 

Tentunya semakin banyak informasi yang millennials dapat, maka semakin kecil risiko yang mereka dapat dari keputusan memilih properti. Karena lewat internet kita bisa mengetahui seluk beluk rumah, dari sistem angsuran sampai legalitas rumah.

 

Namun begitu, setelah unsur informasi serta cek dan ricek semakin mudah, saat mengambil keputusan ada baiknya kalian mengikuti kata hati. Orangtua bisa turut “menyumbang” suara, informasi bisa secara persuasif mempengaruhimu, namun saat mengambil keputusan penting rasanya mengikuti kata hati.

 

Tapi ingat ya, mengikuti kata hati ini adalah proses terakhir setelah kalian benar-benar sudah mengumpulkan segala informasi tadi. Jadi keputusan yang kamu buat tentu berdasarkan pertimbangan data dan fakta dari hasil informasi yang kamu dapat.

 

Terlepas dari sejumlah laporan menyebutkan kekhawatiran bahwa generasi millennials tidak bisa membeli hunian di masa mendatang. Saya yakin, jika millennials mampu menyerap informasi tentang properti lebih banyak, maka kekhawatiran tersebut mungkin hanya sebatas kekhawatiran. Semakin terbuka pengetahuannya maka mereka akan lebih well prepared, termasuk soal investasi.

 

Salam,

 

Yoris Sebastian

Author of Creative Junkies, Founder & Creative Thinker of OMG Consulting, Music Entrepreneur & Public Speaker.

 

 

Apartemen Untuk Siapa ?

May 3, 2017   //   by Synthesis   //   Expert Opinion  //  Comments Off on Apartemen Untuk Siapa ?

Beberapa bulan yang lalu, saya bertemu dengan pembeli sebuah apartemen di bilangan jalan protokol. Dari raut mukanya, meskipun sudah terlihat tua namun dia masih terlihat segar di usianya yang telah menginjak 70 tahun. Usut punya usut ternyata dia adalah seorang pengusaha yang juga masih menjalankan perusahaannya meskipun tidak terlalu aktif lagi. Dia datang bersama dengan istrinya dalam sebuah peluncuran apartemen, harga apartemen yang ditawarkan pun di atas Rp 3 miliaran. Dia duduk layaknya calon pembeli yang menunggu antrian nomer pemesanan. Belum lama berbincang, saya sudah mengetahui mengapa mereka ingin sekali membeli apartemen. Apakah gaya hidup kaum senior perkotaan ini sudah mulai berubah? Apakah karena gengsi?

“Bapak rencananya untuk tinggal?” tanya saya ingin memastikan.
“Iya istri saya maunya tinggal disini,” jawabnya sambil tersenyum melihat istrinya.
“Anak-anak sudah di luar semua yah Pak,” timpal saya.
“Kok tahu?” kata si Bapak sedikit terkejut. Saya pun hanya tersenyum.

Fenomena seperti ini sudah mulai banyak terjadi dalam penjualan sebuah apartemen. Para orang tua yang telah terbiasa tinggal di perkotaan dan bahkan telah mempunyai rumah yang besar pun mulai melirik untuk tinggal di apartemen. Bahkan ada yang menjual rumahnya untuk pindah ke apartemen. Bukan karena mereka butuh uang, namun lebih dikarenakan tinggal di apartemen lebih simple.

Di rumahnya yang besar mereka mempunyai halaman yang luas, tanaman yang banyak, ruang kamar yang banyak. Setelah para anaknya menikah atau sekolah di luar negeri, rumahnya menjadi kosong. Usia pun semakin tua sehingga mereka kerepotan mengurus rumahnya yang besar. Kalaupun mereka ingin jalan-jalan ke luar, agak kurang nyaman bila rumah ditinggal tanpa penghuni. Meskipun mereka mampu untuk mencari pembantu lagi, namun banyak juga yang tidak memilih hal tersebut.

Nah, ternyata dengan tinggal di apartemen, mereka mengharapkan dapat lebih tenang dan tidak perlu repot mengurus rumahnya yang besar. Kalaupun ingin bersantai, mereka hanya perlu ke taman di lingkungan apartemennya. Karena ternyata di sekitar rumahnya yang dulu pun sangat sedikit terdapat taman yang tenang dan aman. Mereka pun bisa menghabiskan makan dan berbelanja di pusat-pusat komersial yang disediakan oleh apartemen yang ingin dibelinya ini.

Apakah semua seperti ini? Tentunya tidak demikian, namun pasar apartemen seperti ini ternyata cukup banyak di perkotaan, lebih lagi bila mereka masih aktif untuk mengawasi perusahaan atau sekedar memimpin pertemuan-pertemuan. Lokasi apartemen di perkotaan tentunya lebih memadai dibandingkan dengan memilih rumah baru di luar Jakarta.

Ternyata gaya hidup simple ini pun mulai digandrungi para eksekutif muda yang bekerja di perkotaan. Apartemen yang simple tidak mengharuskan ada pembantu, tapi cukup untuk ‘tidur’ dan beraktifitas dan yang penting relatif masih dekat dengan tempat kerja atau bisnisnya. Pastinya akan lebih produktif bila para eksekutif muda ini tinggal di apartemen. Kebutuhan apartemen di tengah kesibukan bisnis di perkotaan khususnya Jakarta ‘memaksa’ kita untuk memilih hunian di apartemen. Bagaimana dengan kaum urban yang belum bisa membeli apartemen? Tentunya pasar sewa di tengah perkotaan seperti Jakarta, sangat besar. Kalaupun belum mampu membeli apartemen, mereka akan menyewanya. Bisa di apartemen atau kos-kosan. Namun untuk kalangan eksekutif yang lebih bermodal umumnya lebih memilih apartemen dibandingkan kos-kosan karena lebih private. Apartemen yang dipilih untuk disewa pun tidak harus yang mewah-mewah sekali. Cukup tipe studio atau 1 kamar tidur dengan harga sewa Rp 35 – 50 juta/tahun. Dengan harga sewa tersebut maka tentunya para eksekutif bergaji di atas Rp 7,5 juta/bulan yang mampu menyewanya. Bagi segmen karyawan banyak juga yang memilih apartemen dengan harga sewa di bawah itu.

Bahkan bagi pasangan muda pun banyak yang mulai beralih ke apartemen. Mereka pun mempunyai waktu yang berkualitas beserta keluarga dan anak-anak mereka, daripada memilih hunian di luar Jakarta dengan waktu tempuh yang cukup menyita waktu. Bagi pasangan seperti ini tipe apartemen 1 atau 2 kamar tidur akan menjadi prioritas pilihan.

Dari kesimpulan semua pembeli atau penyewa apartemen, ada satu kata kunci yang menjadi pertimbangan utama kenapa mereka memilih apartemen. Simple! Tinggal di apartemen lebih simple selain itu juga lebih tenang, lebih nyaman, dan lebih produktif. Karenanya siap tidak siap, kaum perkotaan akan mulai terbiasa dengan gaya hidup tinggal di apartemen.

Salam,

Ali Tranghanda, Direktur Eksekutif Indonesia Property Watch (IPW)

Momentum Hunian Vertikal Bertumbuh

Mar 1, 2017   //   by Synthesis   //   Expert Opinion  //  Comments Off on Momentum Hunian Vertikal Bertumbuh

Konsep hunian vertikal sudah lama ada di Jakarta dengan proyek apartemen pertama Ratu Plaza yang beroperasi pada tahun 1981. Konsep hunian vertikal saat itu adalah mendekatkan tempat tinggal dengan lingkungan kerja seiring dengan langkanya lahan untuk hunian di tengah kota. Konsep ini masih relavan hingga saat ini terutama dengan semakin ruwetnya masalah transportasi di kota Jakarta. Namun seiring dengan perkembangan infrastruktur jalan dan transportasi serta makin berkembangnya daerah di pinggiran Jakarta, lokasi hunian vertikal di tengah kota tidak lagi menjadi mutlak karena lokasi tersebut makin sulit terjangkau bagi mayoritas warga Jakarta.

 

Lokasi manapun di Jakarta bahkan di luar Jakarta saat ini relatif mudah “dijual”. Dulu orang belum terpikir untuk membeli apartemen di pinggiran Jakarta apalagi di luar Jakarta karena masih bisa mendapatkan hunian dengan tanah di daerah tersebut. Akan tetapi dengan harga tanah yang terus merangkak naik, ditambah kawasan sekitar yang semakin berkembang dengan berbagai fasilitas dan kemudahan akses transportasi, hunian vertikal menjadi salah satu jawaban atas kebutuhan tempat tinggal bagi warga Jabodetabek pada umumnya.

 

Pertimbangan untuk tinggal di apartemen saat ini tentu masih lokasi, akan tetapi dengan kemudahan akses transportasi, prioritas lokasi bisa terkompensasi. Kemudian faktor proyek itu sendiri, terutama reputasi pengembang dan spesifikasi proyek yang sesuai dengan harga yang ditawarkan. Cara pembayaran yang menarik, fasilitas yang ditawarkan dan faktor eksternal yang mendukung kenyamanan bagi penghuni apartemen seperti tempat belanja, rumah sakit, sekolah, komersial, dan lain-lain.

 

Saat ini perkembangan hunian vertikal di pinggiran Jakarta sangat pesat seperti di barat (Cengkareng, Daan Mogot), selatan (Kebayoran Lama, Cinere, Ciledug) dan timur (Cakung, Buaran, Jalan Raya Bogor).  Di Jakarta Timur bagian selatan tepatnya di daerah Jalan Raya Bogor ada beberapa proyek apartemen yang sudah beroperasi dan sedang dibangun. Titanium Square sudah beroperasi di tahun 2015. Tahun 2018 Sahid Asena akan beroperasi dan di tahun 2020 akan ada tiga proyek yang akan selesai diantaranya Southeast Capital, East 8 dan Prajawangsa City. Dari semua proyek, Prajawangsa adalah yang terbesar dengan sekitar 4.000 unit dari 8 menara. Melihat potensi proyek yang sudah beroperasi maupun yang akan dibangun, daerah selatan Jakarta punya potensi yang cukup karena akses akan semakin baik selain tol Jagorawi dan JORR 1 juga akan terkoneksi dengan JORR 2.

 

Dalam dua tahun terakhir, penjualan apartemen melemah akibat perlambatan ekonomi dan faktor politik. Hal ini berpengaruh pada pertumbuhan harga yang melambat khususnya selama tahun 2016. Saat pasar dalam kondisi normal, harga jual apartemen tumbuh 10% – 15% setahun tapi tahun lalu harga hanya tumbuh di bawah 4%.  Tahun ini diharapkan menjadi momentum bagi properti untuk bertumbuh lebih baik dengan asumsi tingkat suku bunga terjaga di bawah 2 digit dan pertumbuhan ekonomi stabil di atas 5%.

 

Salam,

Ferry Salanto, Senior Associate Director Colliers International Indonesia

Pages:12»


Marketing Office:
Phone: +6221-859-10000
Fax:+6221-8591-5050

Hubungi Kami

Marketing Office:
Jl. Basuki Rahmat no. 1A
Jakarta Timur 13410
Telp: +6221-859-10000
Fax: +6221-8591-5050

Online Help!